News From Southern Indonesian

Saat Jari Kita Menjadi Kompas Menuju Bui

Oleh : Ferdhy Bria

0 400

BETUN,flobamorata.com- “Media Sosial itu berawal dari pikiran, lalu jari jari anda adalah penentu paling akhir”. Kutipan sederhana ini  saya dapatkan melalui permenungan panjang atas realita hari ini. Tentu bagi kita semua pegiat media sosial, sudah membaca berita soal salah seorang warga kabupaten Malaka, yakni saudara saya Seldy Berek,  yang hari ini kalah dalam upaya hukum pra peradilan melawan Polres Malaka terkait kasus dugaan pencemaran nama baik lewat jejaring komunikasi media sosial WhatsApp.

Miris dan prihatin tentu kesan pertama yang ada dalam diri saya terkait kondisi ini. sebagai sesama manusia rasa empati tentu ada. Tetapi sebagai manusia dengan logika berpikir yang sehat, saya harus realistis bahwa ini adalah keputusan hukum lewat pengadilan yang wajib hukumnya ditaati oleh semua kita.

Saya pada awal kasus ini viral, saya hanya berpikir  tentang satu hal.  Bijak dalam bermedsos adalah prinsip dasar dan etika komunikasi yang baik dalam dunia jagat maya. Sebab, bisa saja suatu saat Jari kita akan menjadi “kompas’’ yang menuntun kita menuju arah jeruji besi atau bui.

Banyak fakta disaat semua orang akhirnya harus berakhir sebagai pesakitan, baik itu terdakwa maupun tersangka akibat tidak bijak dalam menggunakan media sosial. Mungkin terlalu aktif, atau emosi mereka kurang terkontrol dengan baik. Maka berpikir dengan logika sehat dan rasional penting sebelum menulis sesuatu di media sosial.

Soal sikap bijak bermedsos ini sederhana saja bagi saya. Yakni pikir dengan baik, serta tulis dengan jelas sebelum dishare ke publik. Soal berpikir dengan baik ini, harus benar-benar diimani sebagai kunci untuk memproteksi diri kita semua dari jebakan yang berimbas pada soal hukum. Teknologi iformasi digital semakin canggih. Bahkan jejak digital bisa ditarcking atau dilacak dengan alat mumpuni untuk mencari titik salah kita dan akhirnya berakhir sebagai pesakitan hukum.

Sebagai pegiat media sosial, kasus saudara Seldy Berek mungkin hanya salah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi.  Lalu apa yang bisa kita dapat dari pengalaman ini? pengalaman dan pembelajaran dari kasus ini hanya satu saja, yakni “Bijaklah Bermedsos”.

Sebagai warga negara yg baik di dalam konteks masyarakat taat hukum, semua ada aturannya. Kecuali saya dan anda sekalian hidup dalam rimba yang tidak ada norma dan aturannya, itu soal lain. Jangan disaat anda sudah berpredikat sebagai tersangka maupun terdakwa, kemudian baper dan katakan bahwa ini kriminalisasi.

Bijak bermedos bukan hal tabuh. Banyak cara untuk sekedar melakukan kritik, koreksi atau analisis pembading, ketimbang menulis penuh kebencian, memfitnah apalagi menuduh tanpa bukti yang akurat. Kecuali anda berniat agar menjadi viral dan tranding, untuk mendapatkan pujian semu, tanpa basis logika dan data yang cukup kuat untuk antipasi dapak hukum atas perbuatan yang dilakukan.

Kepada saudara saya, Seldy Berek, sebagai sesama anak tanah Malaka, saya hanya bisa bersimpati, dan menitipkan pesan agar kuat dan iklas menjalani proses ini. Semua berpulang kembali pada kita, bagaimana sikap bijak kita akan mementukan hasil apa dan seperti apa yang bisa kita raih kelak.

Sebagai warga Negara yang taat hukum, keputusan pengadilan hari ini mengikat kita untuk patuh. Kalau memang ada ganjalan dan keberatan, masih dimungkinkan menggunakan hak sebagai warga negara untuk melakukan banding, kasasi dan Peninjauan Kembali (PK).

Kepada semua warga Kabupaten Malaka yang aktif dan giat dalam mengunakan media sosial, sebagai bahan dan saran komunikasi yang baik, Bijaklah dalam Bermedsos.  Jangan cepat memfitnah atau menuduh tanpa bukti yang akurat dengan narasi yang baik. Sebelum jari anda akhirnya menjadi kompas menuju jeruji besi.

Penulis Adalah Wartawan di www.flobamorata.com dan www.fokusnusatenggara.com

 

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More