News From Southern Indonesian

LP Kades Motaain Diduga Mengendap Di Polres Malaka

0 335

BETUN,flobamorata.com- Laporan Polisi (LP) soal dugaan pemalsuan dokumen yang dilakukan Salomon Leki, Kepala Desa Motaain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga mengendap di Polres Malaka.

Pasalnya, Laporan Polisi (LP) yang dilakukan sejak tahun 2018 silam dengan nomor LP / 37/XI / 2018/ NTT/ Polres Belu/ Polsek Malaka Barat, Tertanggal 17 November 2018, belum ada hasil hingga saat ini. Atas kejadian ini, Alberto Monis, Mantan Ketua BPD sebagai pelapor, mengungkapkan kekecewaan, terkait mandeknya laporan ini.

“ Saya pernah lapor dugaan pemalsuan yang dilakukan kepala desa pada tahun 2018, tetapi sampai saat ini belum ada kepastian soal kasus ini,” ujarnya kesal kepada wartawan di Betun, Sabtu 4 Juli 2020.

Dijelaskannya, LP yang dibuat di Polsek Malaka Barat tersebut, terkait dengan kasus pemalsuan Kades Salomon Leki, berupa tanda tangan BPD dan Stempel BPD Desa Motaain. Dimana, stempel dan tanda tangan palsu tersebut, diduga digunakan Kades Salomon guna pencairan dana desa dan beberapa urusan administrasi lainnya.

“ Dia palsukan tanda tangan saya untuk pencairan dana desa, serta buat stempel palsu untuk jalankan aksinya,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Malaka, Albert Neno, yang dikonfirmasi wartawan melalui Kapolsek Malaka Barat, I Wayan Budiasa, yang didampingi Kanit Reskrim, Urip Hartami, membenarkan adanya laporan tersebut. Bahkan dirinya membantah bahwa kasus ini sengaja diendapkan pihaknya.

“Benar ada laporan Tindak Pidana Dugaan Pemalsuan Surat. Pelapornya adalah Alberto Martins, Ketua BPD. Laporan tersebut tertuang dalam LP / 37/XI / 2018/ NTT/ Polres Belu/ polsek Malaka Barat, tertanggal 17 November 2018, dan saat ini kami sedang lakukan penyidikan, dan akan periksa lagi beberapa saksi untuk lengkapi BAP, guna diserahkan ke Sat Reskrim Polres untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya kepada wartawan, Minggu, 5 Juli 2020.

Mandeknya kasus ini, ungkap Kapolsek Malaka Barat, akibat pihaknya membutuhkan keterangan ahli melalui Laboratorium Forensik (Labfor), guna memastikan pemalsuan tanda tangan tersebut.

Sementara, Kepala Desa Motaain, Salomon Leki yang berusaha dikonfirmasi wartawan terkait hal ini dan beberapa hal lain tidak bersedia memberikan keterangan. Kepada tiga wartawan yang mendatangi kediamannya, Salomon menunjukkan gelagat tidak mau menerima kehadiran para wartawan, dengan alasan sibuk.  (ferdhy bria)

 

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More