ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Topik : 

Empati Bupati Malaka Atas Nestapa Warga

Avatar photo
Reporter : ADMINEditor: ADMIN
  • Bagikan

BETUN,flobamorata.com- Hampir tiga hari sejak Minggu, 10 Maret 2023 Wilayah NTT dilanda cuaca ekstrem. Hujan disertai angin kencang tanpa henti mengguyur dan menerjang Pulau Timor. Intensitas curah hujan yang tinggi tentu memberikan dampak yang buruk bagi beberapa wiayah dataran rendah. Banjir tentu menjadi musibah yang sulit terelakan.

Kabupaten Malaka, Provinsi NTT yang sebagian besar wilayah dan masyarakatnya berada pada dataran rendah menjadi wilayah pertama yang terkena akses banjir akibat cuaca ekstrem tersebut. Senin, 11 Maret 2023 banjir datang dan menerjang wilayah Kecamatan Malaka Barat dan Malaka Tengah.

ads

Tiga desa di Kecamatan Malaka barat yakni Oanmane, Sikun dan Fafoe menjadi daerah yang peling parah terdampak banjir ketimbang wilayah lainnya. Bupati Malaka, DR. Simon Nahak, SH, MH sebagai pucuk pimpinan pemerintah dan masyarakat di Rai Malaka langsung ambil sikap.

Bersama tim teknis terpadu yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas PUPR, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial serta dinas teknis lainnya berencana langsung terjun ke lokasi banjir guna melihat kondisi terkini dari warga.

Gaya Bupati Simon Nahak Yang Membuat Takjub

Namun yang membuat saya takjub yakni gaya dan cara Bupati Simon Nahak dalam mengambil tindakan. Saat dirinya mendapatkan laporan dari tim teknis secara utuh, langkah pertama yang diambil bukan ke lokasi bencana banjir, tetapi menuju Dusun Sitrua, Desa Kusa di Kecamatan Malaka Timur.

Mengapa Bupati Simon Nahak ke Desa Kusa? Itulah pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya, saat melihat berbagai informasi pergerakan Bupati Malaka dalam mengatasi persoalan banjir yang menjadi topik hangat dalam diskusi di media sosial.

Baca Juga :  Milan Ndilu, Karateka Kota Kupang Juarai Piala Panglima Divif 2 Kostrad

Ternyata di wilayah tersebut juga mengalami dampak dari cuaca ekstrem saat ini. Ruas jalan di Dusun Sitrua sebagai jalan penghubung antar kabupaten mengalami ambrol dan nyaris putus tidak bisa diakses oleh kendaraan.

Tanpa banyak cincong dengan gerakan cepat “Sat Set Sat” Bupati Simon Nahak langsung perintahkan Dinas PUPR sebagai dinas teknis untuk membuka jalur alternatif. Alat berat berupa eksavator diturunkan, tanah diurug, jalan alternatif selesai dibuat. Alhasil walau berjuang dengan licin dan lumpur, akses mobilisasi kendaraan dan jasa bisa melewati jalur alternatif tersebut.

Akhirnya setelah merenung dan berpikir soal langkah Bupati Simon Nahak tersebut, saya kemudian menemukan jawaban bahwa apa yang dilakukan “Sang Petarung”, sapaan khas Bupati Simon Nahak sangat cerdas dan taktis.

Bagaimana kalau eksekusi jalur alternatif tidak dilakukan oleh Bupati Simon Nahak saat itu? Tentu akan mendatangkan soal baru bagi seluruh masyarakat kabupaten Malaka. Sebagai jalur utama dari Kupang dan Atambua, jalur tersebut menjadi sumbu bagi mobilisasi barang dan jasa ke Kabupaten Malaka.

Distribusi kebutuhan pokok seperti beras, BBM dan kebutuhan dasar lainnya harus dan wajib melewati jalur tersbut. Seandainya dibiarkan tanpa membuat jalur alternatif, tentu pasokan kebutuhan pokok akan terhambat bahkan menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar terhadap warga Kabupaten Malaka umumnya dan warga tiga desa yang sedang terkena banjir.

Baca Juga :  “Janji Sakti” Bupati Malaka Akhirnya Ditunaikan

Pasti akan muncul pernyataan dari banyak kalangan bahwa bukan hanya Jalur Desa Sitrua saja yang bisa dilalui, sebab ada jalur Selatan Timor yang tidak terkena bencana. Benar pendapat tersebut. Tetapi melihat kondisi ruas jalan di jalur selatan, tentu bagi siapa saja pengemudi yang mahir dan lihai tidak akan mengambil resiko besar melewati jalur tersebut.

Dengan kondisi jalan yang banyak tanjakan tajam serta berkelok akan sangat sulit dilalui oleh kendaraan besar dengan bobot tonase yang besar pula. Mungkin bisa saja mereka nekat untuk melalui jalur tersebut walau harus berjudi dengan musibah yang lebih fatal.

Dengan demikian langkah yang diambil Bupati Simon Nahak tersebut sangat tepat. Dirinya harus memastikan pasokan semua kebutuhan pokok lancar kendati bencana banjir sedang melanda wilayah dan masyarakatnya. Dirinya harus menjamin bahwa distribusi kebutuhan pokok akan aman sampai ke Betun tanpa terkendala cuaca dan infrastruktur jalan yang rusak. Saat semuanya lancar didistribusi ke Malaka, tentu harga pasar bisa dikontrol dengan baik. Saat semuanya normal dan bisa dikontrol dengan baik, tentu tidak ada istilah “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula”.

Menuju Lokasi Banjir Memantau Kondisi Terkini

Usai melakukan pemantauan di Desa Kusa, Bupati Simon langsung melanjutkan misinya menuju tiga desa terdampak banjir. Saat sampai di lokasi, Bupati Simon Nahak bersama dinas teknis langsung melakukan pemantauan dan identifikasi masalah yang terjadi.

Persoalan jebolnya tanggul menjadi masalah utama banjir saat ini. Di lokasi tanggul yang jebol, tim teknis Dinas PUPR langsung melakukan peantauan dan identifikasi persoalan yang disaksikan langsung oleh Bupati Simon Nahak. Solusinya yakni tanggul tersebut harus diperbaiki guna meminimalisir dampak bencana banjir yan akan datang.

Baca Juga :  Kunjungi Maktihan, Begini Pesan Bupati Malaka

Dari lokasi tanggul yang jebol, rombongan kemudian berangkat menuju Desa Sikun, Oanmane dan Fafoe. Di Oanmane, Bupati Simon diterima Kades Nobertus Nahak dan sejumlah warga tepatnya di ruas jalan depan SDK Sukabilulik. Warga menerima dengan baik dan menyampaikan kronologis kejadian banjir yang menggenangi wilayah desa tersebut serta rincian persoalan dan kerugian akibat banjir.

Suasana akrab penuh kekeluarga terlihat dengan damai saat Bupati Simon Nahak diskusi dengan warga. Kendati dalam susasana nestapa akibat banjir, warga dengan sabar mendengar arahan dari suami drg. Maria Martina Nahak, M. Biomed tersebut. Ada harapan dan doa semoga persoalan ini bisa diatasi oleh Bupati Simon Nahak bersama tim.

Namun saat tindakan simpati sebagai manusia dan bupati yang ditunjukan oleh sosok Simon Nahak kepada warga yang lagi dirundung nestapa, di platform media sosial diskusi soal banjir Malaka terkesan bias dan mulai diframing ke arah politik.

Pemerintah dinilai diam, apatis bahkan terkesan lambat dalam melihat soal banjir di Kabupaten Malaka. Tentu wajar dan sah-sah saja pernyataan demikian. Namun sangat disayangkan dari berbagai diskusi tersebut, pada ujung pernyataan selalu menegaskan untuk ganti bupati. Sungguh sebuah kritikan tolol disertai argumentasi yang dungu.

  • Bagikan