ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Jemput Asa Bersama Dekranasda Malaka Lewat Sentuhan Cinta Dokter Maria

Avatar photo
  • Bagikan

KUPANG,flobamorata.com- Usia 10 tahun tentu sangat belia bagi sebuah Daerah Otonomi Baru. Namun usia belia belum tentu minim prestasi. Kabupaten Malaka, Provinsi NTT sudah membuktikan hal tersebut. Kendati baru menginjak usia yang kesepuluh, Malaka yang dulunya masih menjadi bagian dari Kabupaten Belu menunjukan progress pencapaian luar biasa untuk sebuah wilayah pemerintahan daerah yang baru.

Genap Usia 10 Tahun kemarin, Kabupaten Malaka mendapatkan penghargaan Rekor Muri untuk kategori Tari Bidu Tais Mutin dengan penari sebanyak 2000 penari dan Sajian Akar Bilan Terbanyak. Bahkan akhir Bulan Agustus 2023, Malaka kembali mencatatkan prestasi lewat penghargaan Indonesia Award 2023 dalam kategori  Special Recognition of Outstanding Initiative [Pengakuan Khusus atas Inisiatif Luar Biasa] untuk Program SAKTI (Swasembada pangan, Adat Istiadat, Kualitas, Toleransi dan Tata Kelola, Infrastruktur).

ads

Suksesor dibalik semua prestasi tersebut yakni Bupati Malaka, DR. Simon Nahak, SH, MH. Namun tentu dibalik capaian tersebut banyak tangan serta pihak yang terlibat. Salah satunya yang paling berperan besar adalah Dekranasda [Dewan Kerajinan Nasional Daerah] dan Organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam asuhan drg. Maria Martina Nahak, M. Biomed, istri Bupati Malaka.

Baca Juga :  Saat Jari Kita Menjadi Kompas Menuju Bui

Bahkan eksistensi Dekranasda dan TP PKK Kabupaten Malaka di tangan Dokter Maria terus menunjukan hasil yang baik serta patut diapresiasi. Bersama Dekranasda Malaka, Dokter Maria membawa Malaka dikenal ke seluruh sudut dunia. Bahkan selama dua tahun ini, penulis kerap mengikuti secara rutin pergerakan Dokter Maria dengan sentuhan program unggulan bersama Dekranasda dan TP PKK Malaka.

Sebagai beberapa contoh, pada 15 desember 2022 silam, UPTD Museum NTT menjadi saksi sejarah baru akan Warisan budaya Kabupaten Malaka. Dimana lewat Dekranasda Malaka, sepasang kain tenun ikat resmi diterima oleh pihak Museum NTT guna dipajang dalam etalase sebagai barang pusaka dan warisan dari Renu Rai Malaka kepada Indonesia dan dunia.

Selain itu, lewat Dekranasda Malaka juga, siapa sangka Mgr. Piero Pioppo, Nunsius Apostolik (Duta Besar Takhta Suci Vatikan) untuk Indonesia, serta Mgr. Arnaud Jean Marie Du Cheyron de Beaumont (Sekretaris Dubes Vatikan) dan Mgr. Petrus Turang, Pr, selaku Uskup Agung Kupang dipakaikan sarung khas Malaka bermotif Dawan R lengkap dengan destar [ikat kepala]. Momentum ini jelas menjadi sebuah promosi bagus akan Kabupaten Malaka kepada dunia khususnya negara Vatikan. Semua ini tentu tidak lepas dari kerja keras dan tangan dingin Dokter Maria dalam melihat dan membaca momentum dengan baik.

Baca Juga :  Motif Tenun Ikat Malaka Masuk Inventaris Kekayaan Intelektual Negara

Bahkan siapa sangka pula, dalam momentum Pameran Apkasi Otonomi Expo 2022 tahun lalu, Dokter Maria bersama Kabupaten Malaka meraih penghargaan sebagai kabupaten yang mengusung komuditi variatif dalam ajang bergengsi tersebut.

Untuk kalangan manca negara, kabar teranyar bahwa TP PKK dan Dekranasda Malaka tampil apik dan memukau di ajang  Indonesian Cultural Performances and Night Market (ICPNM) 2023 di Dili negara Timor Leste,  dengan menampilkan produk hasil karya anak Malaka lewat UMKM binaan Dekranasda dan TP PKK Malaka. Bahkan performa Kabupaten Malaka mendapatkan respon dan apresiasi yang positif dari Ramos Horta, Presiden Timor Leste dan Xanana Gusmao, PM Timor Leste.

Baca Juga :  Puspem Malaka Segera Dibangun

Prestasi cemerlang dan baik yang ditorehkan oleh Dokter Maria lewat Dekranasda dan TP PKK wajib hukumnya bagi kita semua terutama Rakyat Kabupaten Malaka untuk berikan apresiasi yang sangat tinggi. Kita wajib berbangga akan hal ini. Namun demikian, prestasi yang didapat oleh Dekranasda dan TP PKK Malaka tidak luput dari cibiran para pengkritik yang menganggap hal ini biasa saja bahkan tidak ada apa-apanya.

Hal ini normal dalam konteks hidup bermasyarakat yang penuh dinamika. Bahkan hal ini lumrah juga menjadi gorengan atau framing bagi Kompetitor politik menjelang suksesi Pilkada Kabupaten Malaka. Tapi sangat disayangkan kalau kritik yang dibangun tanpa didukung dengan fakta yang menguatkan argumen untuk berdebat dalam ruang publik.

  • Bagikan