ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bahas Ketahanan Pangan, PT Tangguh Media Nusantara Siap Kembangan Isu Strategis

Avatar photo
  • Bagikan

JAKARTA,flobamorata.com- Menghadapi tantangan global yang makin kompleks, penguasaan teknologi menjadi hal yang mutlak harus dilakukan. Khususnya dalam ketahanan pangan dalam negeri.

Terkait hal ini media online Panen News menggelar Focus Group Discusion (FGD) dengan tema Geliat Ketahanan Pangan Indonesia 2023. Dalam kegiatan ini hadir Pemimpin Umum Panen News yang juga CEO PT Tangguh Media Nusantara, Amir Firmansyah dan Pimpinan Redaksi Panen news. Azanil Kelana yang juga selaku moderator.

ads

Sementara untuk pembicara yakni Prof. Marsudi Wahyu Kisworo, Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kemudian perwakilan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Septalina Pradini, S.PI, M.Si dan pegiat sosial Nukila Evianti.

Baca Juga :  Bupati Malaka Lobi Kemenpora Terkait Pembangunan GOR

Dalam kesempatan tersebut, Marsudi menyampaikan, ada beberapa tantangan konkret dalam hal ketahanan pangan. Yang pertama ada perubahan iklim. Ini menjadi tantangan karena jika sebelumnya para petani bergantung pada cuaca untuk menanam padi. Namun hal tersebut tidak bisa lagi menjadi tolak ukur.

“Saat ini musim hujan sudah tidak teratur, dampaknya petani kerap mengalami kerugian karena padi yang ditanamnya kebanjiran atau bahkan kekeringan karena tidak ada air,” ujarnya dalam kegiatan yang juga memperingati tiga tahun Panen News.

Baca Juga :  Kementerian PUPR Alokasikan Dana 1,1 Triliun Kepada BPJN NTT

Kemudian tantangan yang kedua adalah Pandemi. Hampir tiga tahun Indonesia dihantam Pandemi dan hal ini cukup terasa melumpuhkan perekonomian. Pasalnya masyarakat tidak bisa bergerak keluar rumah.

Tantangan yang ketiga adalah geopolitik diantaranya perang Rusia- Ukraina dimana beberapa negara terdampak langsung atas perang tersebut. Indonesia sebenarnya juga terdampak, namun masih bisa ditambal.

Tantangan yang ke empat adalah pertumbuhan penduduk. Data yang ada di BRIN setiap tahunnya lahan pertanian berkurang hingga 100 hektar persegi. Artinya lahan untuk pertanian berkurang sementara naluri mahluk hidup untuk berkembang terus berjalan. “Hal ini tentu menjadi masalah yang harus ditemukan solusinya,” ucap Marsudi.

Baca Juga :  KTT ASEAN : Upaya Pemulihan Akibat Krisis Global

Terakhir adalah minimnya regenerasi petani dan nelayan. Ini menjadi masalah yang terus dilakukan solusinya. Salah satunya adalah bagaimana menarik kelompok Milenial untuk mau terjun menjadi petani.

Sementara itu, Septalina Pradini mengatakan jika pihak Kementan telah menyebar petugas penyuluh pertanian yang stand by di tiap kecamatan. Untuk para petani yang ingin berkonsultasi bisa langsung mendatangi badan penyuluh pertanian.

  • Bagikan