Di lapangan, kopi robusta dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini relatif adaptif terhadap kondisi agroklimat setempat dan memiliki pasar yang stabil. Namun, produktivitas dan mutu kerap terkendala keterbatasan bibit unggul, teknik pembibitan, hingga perawatan awal. Intervensi pada fase ini diharapkan memperkecil risiko gagal tanam dan mempercepat masa produktif.
Gilbert menegaskan, peran bank daerah tak berhenti pada layanan keuangan. “Kami ingin hadir sebagai mitra pembangunan,” katanya. Bank NTT memosisikan diri sebagai simpul kolaborasi, menghubungkan akses permodalan, literasi keuangan, dan penguatan rantai nilai komoditas lokal.
Targetnya ambisius: satu juta anakan kopi tertanam dalam tiga tahun. Jika konsisten, program ini tak hanya memperluas tutupan tanaman produktif, tetapi juga membuka peluang kerja, menambah pendapatan rumah tangga tani, dan memperkuat ketahanan ekonomi wilayah. Dari pembibitan hingga panen, dari kebun ke pasar, “Sejuta Harapan” diharapkan benar-benar menjelma, bukan sekadar slogan, melainkan fondasi kesejahteraan baru bagi warga Sumba Tengah. (JeFF*)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










