Charlie mengatakan, persoalan lain adalah ada kredit yang memburuk, sehingga cadangan harus ditambah. Penambahan cadangan ini, mengakibatkan ada kenaikan pada biaya.
“Ketiga, ada beberapa biaya yang sebelumnya itu tidak dibukukan atau dibebankan. Sekarang, setelah saya masuk, saya bilang ini tidak boleh. Harus dibebankan. Mau nanti neraca laba rugi kita kurang bagus, tapi ini kan suatu kenyataan,” ungkapnya.
Terkait poin ketiga, Charlie menguraikan, Bank NTT harus membayar kewajiban kepada Jamkrindo sebesar Rp7,3 miliar, dan kewajiban membayar pajak.
“Kenapa? Kalau kita tidak membayar itu, kita tidak bisa menjalankan KUR, padahal sekarang kita sudah mau menjalankan KUR, belum lagi ada kewajiban pajak. Meskipun kita belum berperkara, tapi saya sudah harus cadangkan biaya ini,” ungkapnya.
Charlie menambahkan, target deviden untuk tahun 2026, pihaknya menargetkan deviden Rp43,6 miliar. “Kita targetkan Rp43,6 miliar, tapi kan baru dihitung sampai tahun depan,” pungkasnya.+++JeFF
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











