ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kemesraan Bupati Malaka Bersama Para Kades Di Kertalangu

Avatar photo
Reporter : FATUREditor: ADMIN
  • Bagikan

“Sebagai contoh kalau Desa Wehali sangat cocok di bidang desa budaya sebab situs sejarah budaya dan peradaban ada di Laran. Untuk Bumdes berbasis digital sisa dikembangkan di desa mana yang berminat dan serius. Peternakan bisa dikembangan di Desa Lawalu, serta TPI bisa dilakukan di Desa Kletek,” ungkapnya.

Usai memberikan kesimpulan akan kegiatan Studi Banding tersebut, kami bersama rombongan dan Bupati Malaka kemudian pamit untuk santap siang bersama.

Scroll kebawah untuk lihat konten
ads
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Renyahnya “Babi Guling Chandra” Di Teuku Umar

Usai melakukan Tour Studi Banding di Kertalangu, kami bersama rombongan kemudian diajak Bupati Malaka, DR. Simon Nahak, S.H, M.H untuk santap siang bersama. Sebagai orang Malaka yang tidak pantang terhadap hidangan dengan menu babi, rasanya kurang afdol kalau di Denpasar tidak menikmati hidangan Babi Guling.

Untuk itu kami diajak menuju Jalan Teuku Umar, sebagai salah satu ruas jalan yang masuk kategori jalan protokol di wilayah Denpasar. Jalan yang diapit bangunan mewah dengan beragam usaha tersebut cukup padat siang itu.

Rombongan kami kemudian berhenti di sebuah warung yang menyajikan kuliner khas Bali yakni “Nasi Babi Guling Chandra”. Seporsi dengan harga terjangkau sudah komplit dan lengkap dengan berbagai menu.

Dari lawar Bali, kulit babi yang renyah, sayur yang segar, daging yang empuk hingga sop yang khas dengan rempah sampai pada sambal bali yang terkenal pedasnya, serasa memanjakan lidah dan perut kami yang sudah lapar saat itu.

Tidak ada pembicaraan serius dalam acara santap siang saat itu. Namun bagi saya momen tersebut menjadi istimewa karena bertemu salah satu nara sumber tulisan saya soal hukum yakni Yanuar Nahak. SH, adik kandung Bupati Malaka.

Yanuar adalah sosok yang selalu menjadi nara sumber pemberitaan saya seputar isu hukum. Sejauh ini sudah setahun lebih saya berhubungan dengan Yanuar hanya lewat obrolan WhatsApp tanpa bertatap muka. Babi Guling Chandra di Jalan Teuku Umar menjadi tempat pertemuan kami siang itu, sekaligus mengobati rasa penasaran saya soal sosok pengacara muda yang kerap peryataannya mengisi narasi berita saya.

Kisah Bupati Simon Nahak Bersama Jalan Diponegoro

Usai santap siang bersama, saya, Eddy Sumantri, Om Yoga dan Fahmi diajak Bupati Simon Nahak menuju suatu tempat. Kami hanya diarahkan menuju Ramayana Mall di jalan Diponegoro Denpasar. Saya langsung senang diajak ke mall.

Sebab ini kesempatan untuk berbelanja produk terbaru dan mencari pernak pernik “The Rolling Stone” [maklum saya pencinta band legendaris itu] di seputaran daerah tersebut. Jalan Diponegoro juga merupakan salah satu jalan protokol di Bali yang memiliki banyak Ruko serta Outlet yang menjual produk kaos dengan konsep distro.

Namun harapan saya pupus seketika, saat mobil kami yang dikemudikan Anom sang sopir berbelok arah persis di depan Ramayana Mall untuk masuk ke Kawasan satu unit Ruko, persis di pertigaan menuju arah utara depannya Kantor Cabang Bank Artha Graha kami berhenti dan parkir.

Saya bergegas turun dan mengikuti Om Yoga serta Fahmi menuju salah satu flat berlantai tiga. Kaget bukan kepalang. Saat melihat plang papan nama di bangunan tersebut. Ternyata ini merupakan Kantor Pengacara DR. Simon Nahak, S.H, M.H jauh sebelumnya dirinya menjadi Bupati Malaka.

Baca Juga :  PT Multi Medika Raya Pastikan Pembangunan RS Pratama Wewiku Selesai Akhir April 2024

Di lantai dua tepatnya Doktor Simon Nahak berkantor. Ruangannya tidak terlalu luas hanya berukuran sekitar 4 kali 5 meter persegi. Ada sebuah meja biro berlapis kaca lengkap dengan kursi serta papan nama di depannya. Ada pula satu unit sofa dengan meja bagi para tamu.

Di sudut ruang kerja tersebut ada tumpukan berkas perkara serta bahan penelitian Doktor Simon Nahak untuk memperoleh gelar doktor. Kami berbincang banyak hal dalam ruangan ini. Mulai dari dirinya merintis karir sebagai pengacara profesional di Bali, hingga memilih terjun ke dunia politik yang mengantarkan dirinya menjadi Bupati Malaka.

“Semua berawal dari sini dik,” ujarnya.

Kantor pengacaranya memiliki kesan dan makna mendalam bagi seorang Simon Nahak. Bagaimana tidak, kantor di tengah pusat kota Denpasar tersebut merupakan asset dan milik pribadi. Saat pengacara lain sibuk menyewa kantor, Simon Nahak sudah memiliki kantor sejak tahun 2000 an. Bahkan letaknya sangat strategis dengan harga yang tinggi pula. Harga unit flat kantor miliknya tentu memliki nilai yang sangat tinggi apabila dirinya ingin menjual kepada pihak lain.

Tetapi bagi Bupati Simon Nahak pikiran tersebut tidak terbesit di benaknya. Kantor tersebut memiliki kenangan akan bagaimana kerasnya seorang Simon Nahak merintis karier dan berhasil menjadi seorang profesional di bidang hukum dari titik nol.

Kalau anggapan banyak orang bahwa Bupati Simon Nahak datang ke Malaka hanya untuk mengumpulkan kapital dan harta kekayaan tentu pendapat tersebut sangat keliru dan salah. Dengan nama besar dirinya sebagai pengacara yang ahli di bidang hukum pajak dan penanganan perkara orang asing maupun korporasi asing, tentu uang dan pundi-pundi kekayaan bukan hal sulit bagi dirinya.

Semasa menjalankan profesi sebagai pengacara, Bupati Simon Nahak tentu memiliki standar dan mekanisme khusus menyangkut upah dan biaya jasa atas keahliannya. Sekelas pengacara pemula di Kupang saja mematok harga konsultasi bisa mencapai angka Rp 5 juta per jam. Bagaimana kisaran harga konsultasi seorang Bupati Simon Nahak saat dirinya masih aktif sebagai pengacara?

Selain pengacara dirinya kerap diminta sebagai saksi ahli dalam beberapa perkara di pengadilan. Perlu diingat biaya untuk seorang saksi ahli tidaklah kecil dan sedikit. Sebab membayar keahlian seseorang tidak ada patokan harga jika dibandingkan manfaat dari keahliannya.

Artinya jangan menghitung dan menilai orang dari kulit luarnya. Jangan pula menilai seorang Bupati Simon Nahak tanpa anda atau kalian tidak pernah menikmati segelas kopi di Jalan Diponegoro tepatnya kantor pengacara DR. Simon Nahak.

Ramahnya Albertus Yoseph Nahak “Sang Petarung Muda”

Diskusi siang itu di ruang kerja pengacara Bupati Simon Nahak harus terhenti sejenak. Saat diskusi diiringi tawa, kemudian pihak ajudan memberi info bahwa ada dua orang tamu hendak bertemu Bupati Simon Nahak.

Saya, Eddy Sumantri, Om Yoga dan Fahmi kemudian keluar dan duduk bercanda ria di Gazebo kantor yang ada persis di teras lantai dua. Saat menikmati rokok dan air mineral, kemudian ada seorang pemuda bertubuh sedikit gemuk memakai pakaian serba hitam [Celana pendek dan Kaos Hitam] datang menyapa kami.

Baca Juga :  Kabupaten Belu Dukung Kegiatan Timor Island Adventure

Saya kemudian berpikir mungkin ini salah satu staf atau “anak kerja” Bupati Malaka. Tanpa basa-basi, pemuda tersebut menawarkan kami minum. “Om mau Minum Kopi atau Apa?,” tanya sang pemuda. Sebagai orang awam saya menjawab saja bahwa saya ingin minum air mineral saja.

Tanpa komunikasi pemuda tersebut langsung naik ke lantai dua hingga sesaat kemudian datang membawa beberapa botol air mineral. Ternyata, oleh Mario, sang Walpri Bupati Simon Nahak pemuda tersebut diperkenalkan sebagai anak bungsu dan anak laki satu-satunya Bupati Simon Nahak.

Kaget dan malu tentunya perasaan saya saat itu. Bagaimana tidak, saya yang tidak mengetahui identitas pemuda itu berani minta dilayani air mineral oleh dirinya. Kemudian saya merenung dan mengamati pemuda tersebut yang kemudian saya tahu namanya adalah Albertus Yoseph Nahak.

Bag pinang dibelah dua. Senyum dan tawa itu persis seperti Bupati Simon Nahak. Bahkan apa yang baru saja dilakukan oleh dirinya dengan membawa permintaan air mineral kami menunjukan sikap dan sifat rendah hati yang diturunkan langsung oleh sang ayah.

Bahkan saat kami duduk mengitari Gazebo, dirinya hanya berdiri sambil sesekali ikut ngobrol bersama kami. Sungguh sifatnya sangat kontradiksi dengan anak pejabat kebanyakan. Dirinya hanya diam sembari melihat dan mendengar obrolan kami sekali diiringi gelak tawa. Bahkan kesan anak seorang pejabat juga tidak nampak.

Tidak bisa dianggap sepele didikan untuk membentuk karakter rendah hati seseorang, apalagi dalam usia yang sangat muda dengan status anak bupati. Tetapi bagi Bupati Simon Nahak, dirinya berhasil mendidik Albertus Yoseph Nahak, sang anak lelaki semata wayang menjadi sosok rendah hati yang bisa disebut “Sang Petarung Junior”.

Senja Bersama Mangga Harum Manis Di Renon

Renon, Kota Denpasar merupakan kawasan elite. Kalau di Kupang ada kawasan hunian di Walikota, demikian pula di Denpasar ada Renon. Bupati Simon Nahak dan keluarga memiliki hunian pribadi di Kawasan tersebut yang sudah ditempati sejak tahun 90an.

Usai dari Kantor Pengacara DR. Simon Nahak, kami bersama rombongan diajak ngopi sore di rumah kediaman Bupati Simon Nahak di Renon. Di depan rumah berlantai dua dengan gaya arsitektur modern Bali tersebut ada pohon mangga jenis harum manis yang lagi berbuah.

Tanpa malu dan perasaan saya minta ijin untuk menikmati mangga yang lagi mengkal tersebut. Pihak orang rumah dari Bupati Simon Nahak langsung memanjat dan menyuguhkan kepada kami setelah dikupas dan ditata dalam piring lengkap dengan garam dan lombok.

Sebagai penikmat mangga sejati, saya tentu tanpa malu-malu langsung menikmati mangga mengkal sembari merasakan  manis dengan sedikit asam dalam mulut saya. Lezatnya mangga Harum Manis tentu membuat saya lupa akan persoalan hidup untuk sesaat.

Bahkan kopi hitam serta pisang goreng panas seolah tidak menggoda selera saya ketimbang Mangga Harum Manis. Satu kekecewaan saya hingga sekarang yakni  saya lupa meminta anakannya untuk dibawa pulang ke Kupang agar bisa ditanam.

Sakota Dengan Matic Bersama Om Yoga

Selasa, 7 November 2023. Hari ini seluruh kegiatan libur sebab proses Studi Banding sudah berakhir. Hari ini para kades diberi kebebasan untuk menikmati pesona negeri dewata. Pagi-pagi sekali Eddy Sumantri dengan Kepala Desa Wehali sudah jalan-jalan menikmati indahnya Pantai Kuta.

Baca Juga :  Bupati Malaka Tinjau Bendungan Benenain Guna Pastikan Kebutuhan Air Secara Maksimal

Usai sarapan serta ngopi, saya kemudian menghabiskan beberapa batang rokok di tepian kolam renang Bendesa Hotel. Matahari semakin terik saya kemudian beranjak kembali ke kamar. Selang 30 menit berada di kamar, saya dihubungi Om Yoga untuk diajak jalan-jalan mencari oleh-oleh agar dibawa pulang ke rumah.

Ternyata saat saya turun ke lantai satu, persis di kamar om Yoga dan Fahmi, mereka suda siap-siap untuk berangkat. Kami kemudian menyewa dua unit motor untuk memperlancar aktivitas kami dan menghindar dari kemacetan.

Saya memilih motor matic jenis Honda Vario sedangkan Om Fahmi memilih NMAX sebagai tunggangannya. Di belakang saya duduk manis Om Yoga yang saya bonceng. Laksana pembalap Valentino Rossi, motor saya pacu dengan menyalib beberapa kendaraan di depan untuk menerobos kemacetan.

Hampir 10 menit berkendara dari jalan Raya Legian-Kuta, kami berdua kehilangan Om Fahmi yang jauh tertinggal di belakang. Sembari morokok dan menunggu beberapa saat Om Fahmi belum juga nampak. Lalu kami balik arah untuk mencari keberadaan mereka dengan modal share loc yang diberikan.

Akhirnya kami bertemu kemudian jalan beriringan menuju Toko Oleh-Oleh khas Bali “Krisna”. Tanpa menunggu lama kami mulai berburu oleh-oleh di toko tersebut. Berbelanja selama satu jam kami pun balik dan mencari tempat untuk makan siang.

Sulit memang mencari tempat makan siang di daerah Legian yang pas dengan selera lidah kita. Akhirnya warung lalapan gurami dan soto menjadi tujuan kami. Sembari menunggu pesanan, Om Yoga langsung memesan Jus Semangka, demikian juga saya yang memilih Jus Naga.

Ternyata ada kesamaan antara saya dan Om Yoga, bahwa kami sama-sama juga penikmat kerupuk. Bedanya Om Yoga suka dengan Kerupuk Bawang, saya lebih memilih Kerupuk Bulat Jawa. Perut sudah kenyang, saatnya kembali ke hotel untuk rehat.

Sayonara Pulau Dewata

Sekembalinya kami dari jalan-jalan bersama Om Yoga, praktis kegiatan selanjutnya hanya diisi dengan tidur dan istirahat sebab mengingat besok kami harus kembali ke Kupang dan Malaka. Malam itu saya isi dengan berkemas sebab pesawat kami adalah flight pertama yang jadwalnya Jam 9.00 Wita pagi.

Dengan kembali menumpang dua unit minibus, kami berangkat menuju Bandara Ngurah Rai. Proses chek in atau pelaporan menjadi tugas Om Fahmi yang sudah ahli di bidang itu. Saya memilih duduk berdua dengan Bupati Simon Nahak sembari diskusi beberapa hal.

Saya banyak diberi nasehat oleh Bupati Simon Nahak terutama soal pembelajaran hidup. Bahkan beliau berpesan agar menulis dengan baik tanpa tendensi apalagi fitnah. Dirinya tak lupa memberikan apresiasi kepada tim wartawan yang mengikuti lawatannya kali ini.

“Terima kasih dik, sudah ikut dalam kegiatan ini dan sudah menulis dengan baik,” ungkapnya.

Usai chek in kami langsung melakukan boarding untuk selanjutnya terbang menuju kupang. Satu setengah jam perjalanan di atas udara, akhirnya pesawat yang membawa kami landing di Bandara Eltari Kupang. Usai mengambil bagasi, Bupati Simon Nahak, bersama rombongan kemudian berpisah dengan saya untuk kembali ke rumah guna melakukan aktivitas seperti biasa.

“Catatan Perjalanan Seorang Jurnalis”

JEFFRY TAOLIN, Pemred www.flobamorata.com

  • Bagikan