Menurut Hery, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa di balik data kerusakan bangunan dan jumlah bantuan yang disalurkan, ada luka psikologis yang tidak selalu terlihat.
“Trauma, ketakutan, kehilangan dan ketidakpastian penanganan. Itu saja yang warga di sini alami. Mereka yang pendiam pasti bertanya dalam hati, apakah mereka masih diperhatikan atau tidak,” ujar Hery.
Ia mengatakan, kondisi psikologis warga di desanya saat ini cukup memprihatinkan. Kerusakan rumah dan kehilangan harta benda menjadi beban tersendiri. Di sisi lain, ketidakpastian mengenai bantuan, tempat tinggal sementara, kebutuhan dasar, hingga masa depan keluarga membuat sebagian penyintas semakin tertekan.
Bahkan, kata Hery, dalam situasi pengungsian mulai muncul persoalan lain berupa rasa kecewa dan ketegangan sosial akibat persepsi ketidakmerataan bantuan.
“Bencana bukan hanya menghancurkan rumah. Dalam kondisi tertentu, bencana juga bisa mengguncang rasa aman, harapan, bahkan hubungan antarwarga,” katanya.
Pemerintah Diminta Tak Hanya Menghitung Kerusakan
Hery menilai penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada pendataan rumah rusak, korban terdampak maupun jumlah bantuan yang telah disalurkan.
Menurut dia, kondisi kesehatan mental para penyintas juga harus menjadi bagian penting dari respons kedaruratan.
Warga yang kehilangan rumah, harta benda, rasa aman dan kepastian mengenai masa depan membutuhkan pendampingan agar tidak menghadapi beban psikologis seorang diri.
“Penanganan kedaruratan bencana oleh pemerintah tidak boleh hanya terfokus pada perhitungan jumlah rumah yang rusak atau bantuan yang telah disalurkan. Kondisi kesehatan fisik dan mental masyarakat juga harus diperhatikan,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan tenaga pendamping psikososial di lokasi pengungsian. Pendampingan tersebut dinilai penting untuk membantu warga menghadapi trauma, kecemasan, kehilangan dan ketidakpastian yang muncul setelah bencana.
Sebab, ketika tanah telah berhenti berguncang, belum tentu ketakutan di dalam diri para penyintas ikut berhenti.
Di balik tenda-tenda pengungsian, masih ada banyak warga yang sedang berusaha memulihkan hidup—dan mungkin juga sedang berjuang menghadapi luka yang tidak terlihat. terlihat.***Scolastica
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











