ads

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pengungsi Mandiri Jadi Kendala, BNPB Percepat Distribusi Logistik di Flores

Avatar photo
Reporter : SAMMUELEditor: SCOLASTICA
  • Bagikan

RUTENG,flobamorata.com- Pemerintah mempercepat distribusi logistik dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 15 Agustus 2026.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan, distribusi bantuan terus digenjot, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian maupun titik-titik pengungsian mandiri memperoleh kebutuhan dasar.

“BNPB terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan,” kata Suharyanto saat mendampingi kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Kabupaten Sikka, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut Suharyanto, salah satu persoalan yang kini dihadapi dalam penanganan darurat adalah tersebarnya titik-titik pengungsian mandiri.

Scroll kebawah untuk lihat konten
ads
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kondisi tersebut membuat proses pendataan sekaligus distribusi bantuan menjadi lebih kompleks.

Baca Juga :  Sekda Belu Hadiri Misa Syukur Penthabisan Pater Adrianus Kefi SVD

BNPB mencatat sekitar 95.871 jiwa mengungsi akibat gempa. Sebagian besar di antaranya memilih mengungsi secara mandiri di sejumlah titik yang tersebar.

“Berdasarkan temuan tim BNPB di lapangan, salah satu kendala distribusi logistik adalah banyaknya titik pengungsian mandiri yang tersebar. Kondisi ini menyulitkan pendataan dan penyaluran bantuan,” ujar Suharyanto.
Meski demikian, pemerintah memastikan distribusi bantuan tetap berjalan melalui berbagai jalur.

Bantuan dikirim menggunakan transportasi udara, laut, maupun jalur darat, menyesuaikan kondisi wilayah terdampak.
Suharyanto menyebutkan, bantuan logistik Presiden RI yang telah dikirim sejak 15 hingga 19 Agustus 2026 mencapai 411 ton.

Pada 19 Agustus 2026 saja, distribusi bantuan melalui jalur udara tercatat sebanyak 72,77 ton. Bantuan tersebut antara lain berupa 5.000 paket sembako untuk Posko Maumere dan 2.900 paket sembako untuk Posko Labuan Bajo.

Untuk memperluas jangkauan distribusi, TNI Angkatan Laut mengerahkan sejumlah armada. Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai.

Baca Juga :  Bank NTT Siap Dukung Tour De EnTeTe

Kapal tersebut membawa bantuan Presiden RI, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi masyarakat yang selanjutnya didistribusikan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Selain bantuan logistik, KRI dr. Soeharso yang merupakan kapal bantu rumah sakit juga dikerahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Dukungan yang disiapkan pemerintah meliputi beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, hygiene kit, bahan bakar minyak, genset, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Sebanyak 882 unit tenda juga telah disiapkan, terdiri atas 215 tenda pengungsi berukuran 6×12 meter dan 667 tenda keluarga berukuran 4×4 meter. Pemerintah turut menyiapkan dua unit rumah sakit lapangan.

“Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi,” tegas Suharyanto.
Krisis Air dan Listrik

Baca Juga :  Presiden Prabowo Apresiasi Kehadiran Bank NTT

Di tengah percepatan distribusi bantuan, sejumlah kebutuhan dasar di lokasi pengungsian masih menjadi perhatian pemerintah.

BNPB menerima laporan mengenai keterbatasan air bersih dan listrik di sejumlah posko pengungsian, salah satunya di Posko Pengungsian Reo, Kabupaten Manggarai.

Keterbatasan air bersih dinilai paling berdampak terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak. Sementara minimnya pasokan listrik membuat sebagian pengungsi harus menggunakan lampu dari telepon seluler untuk beraktivitas pada malam hari.
Keterbatasan tenda juga membuat sejumlah warga berinisiatif membangun tempat perlindungan secara mandiri.

Suharyanto mengatakan pemerintah memahami berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat selama masa tanggap darurat.
“Kami memahami kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di pengungsian,” katanya.

Korban Meninggal Capai 78 Orang
Berdasarkan data resmi BNPB per 20 Agustus 2026, gempa bumi magnitudo 7,7 di NTT telah menyebabkan 78 orang meninggal dunia dan 953 orang mengalami luka-luka.

  • Bagikan