Dijelaskan Ansilla Mutty, dalam ILP Puskesmas, semua Fasilitas Kesehatan harus terintegrasi siklus hidup, mulai Puskesmas, Pustu sampai ke Posyandu. Awalnya untuk Puskesmas Halilulik, Pustu Naekasa juga dipilih sebagai Pustu ILP, dengan semua Posyandu di bawahnya dijadikan Posyandu Siklus Hidup.
Selanjutnya, kata Ansilla Mutty dia berkembang terus sehingga saat ini, dari 7 Pustu/polindes di bawah Puskesmas Halilulik, semuanya telah menerapkan sistem ILP, dan 49 Posyandu juga telah bertransformasi menjadi Posyandu Siklus Hidup.
Sebagai Puskesmas ILP, Puskesmas Halilulik sering dijadikan sebagai tempat studi banding dari beberapa Puskesmas baik dari Belu, maupun dari Kabupaten lain di NTT.
“Perjuangan ILP ini didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Belu, Momentum dan Dinas Kesehatan Provinsi. Saat ini, sudah ada 9 Puskesmas di Belu yang dipersiapkan untuk menjadi ILP, dan kami berharap tahun depan, seluruh 17 Puskesmas di Belu dapat menjadi ILP,” jelas Ansilla Mutty
Kadis Ansilla Mutty berharap dengan penerapan ILP ini, Dinas Kesehatan dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan sesuai dengan siklus hidup masyarakat, mulai dari Puskesmas hingga Posyandu, dengan kualitas layanan yang seragam.
“Terima kasih kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Momentum, Pemerintah Daerah Belu, Jajaran Dinas Kesehatan Belu, serta seluruh Puskesmas di Belu, terutama Puskesmas Halilulik beserta jajarannya,” pungkas Kadis Ansilla.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











