News From Southern Indonesian

Ketika Nenek Elis Jadi “Musuh” BLT Desa Laleten

0 344

BETUN,flobamorata.com- Sepintas kalau dilihat dari usianya,  ada pada kisaran 80 hingga 90 tahun. Kondisi fisik yang uzur, langah yang tertatih dipadu dengan guratan keriput di wajahnya yang nampak menua, member kesan sosok ini bersyukur hidup dalam tiga jaman. Bahkan mirisnya lagi, matanya mengalami buta total. Meski alami kebutaan permanen, tetapi bersyukur, respon indra pendengarannya baik. Kondisi syaraf telinga masih bagus, bahkan bisa mendengar dengan jelas.

Sosok renta itu adalah Elisabeth Bano Lotu, warga Dusun Lo’o, Desa Laleten, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kamis, 11 Juni 2020 pagi itu, ketika sebagian besar warga Desa Laleten menuju kantor desa guna menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD), dirinya hanya duduk sambil mengunyah sirih pinang di balai- balai gubuk miliknya, tempat dia habiskan aktivitas saban hari.

Mata Nenek Elis boleh buta. Tapi telinga dia tanjam mendengar bisik-bisik warga, soal pembagian “Berkat BLT” hari ini. Seketika dirinya termenung, dan bertanya dalam hati. “Mengapa saya tidak diajak  mereka pergi terima berkat itu?”. Miris memang, pertanyaan sederhana, yang sulit untuk dijawab.

Ferdhy Bria, Wartawan flobamorata.com, ketika mewakili redaksi memberikan bantuan berkat kepada Nenek Elisabeth Bano Loru, Kamis, 11 Juni 2020 [foto: redaksi flobamorata]
“ Saya dengar pagi-pagi mereka semua jalan lewat sini, bilang mau ke desa terima uang bantuan. Tapi kenapa mereka tidak bawa saya?” ungkap janda Almarhum Petrus Fahik, ketika menjawab  flobamorata.com. Kamis, 11 Juni 2020 pagi.

Ternyata sudah sekian lama, Nenek Elis tidak pernah tersentuh bantuan sosial pemerintah. Bahkan disaat semua warga dalam keadaan normal menerima dana Program Keluarga Harapan (PKH), dirinya masih penuh dengan harap untuk dapatkan  sedikit perhatian dan berkat pemerintah. Disaat semua warga dalam masa pandemik Covid-19 ini, gantungkan asa lewat dana BLT dan Bantuan Sosial Tunai (BST), Nenek Elisabeth harus menguburkan asa  itu, mungkin sebagai pembuka jalan menuju sang khalik kelak.

Nenek Elis bukan warga pendatang. Dirinya lahir pada jaman “kompeni Belanda dan Nipon” menjajah Indonesia. Bahkan  selama ini, hidupnya dihabiskan di Laleten. Hidup dalam gubuk reot persis di belakang rumah anaknya, Mea Luruk, Nenek Elis saban hari habiskan waktu dengan menguyah sirih. Bahkan untuk makan dirinya harus disuap,  sampai harus dituntun untuk urusan buang hajat, karena buta permanen.

Perangkat RT, Dusun hingga Desa Laleten, seolah menutup mata akan keberadaan Nenek Elis. Dalam pendataan penerima BLT DD tahap pertama ini, nama Nenek Elis tidak ada, kendati secara syarat dia termasuk dalam warga yang memiliki hak untuk menerima. Mungkin dalam pendataan, para aparatur dusun lupa bahkan ikutan “buta” seperti Nenek Elis. Tetapi, bagi Nenek Elis, dia tidak akan lupa, bahwa pagi tadi dirinya mendengar dengan jelas bisik- bisik warga soal pembagian BLT.

Bagi Nenek Elis, mungkin uang BLT saat ini menjadi “Musuh” dirinya.  Tetapi Tidak dengan Tuhan. Dirinya bersyukur masih hidup di usia senja, kendati matanya buta untuk melihat bentuk dan rupa duit Rp. 600 ribu, tetapi telinganya mendengar dengan baik soal kejadian pagi ini di Laleten.

Diakhir  pertemuan sebelum pamit, redaksi flobamorata.com, sempat memberikan sedikit berkat berupa uang Rp. 50 ribu, sebagai  penyangga alas saku siri pinang Nenek Elis. Uang ini sangat kecil, sebab flobamorata.com mengambil dari kekurangan mereka. Walau Rp.600 ribu uang BLT ibarat jauh panggang dari api, minimal Nenek Elis tdak berhenti mengunyah siri pinang  untuk beberapa hari kedepan. Apakah Nenek Elis yang janda ini Bukan Warga Laleten?. (ferdhy bria)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More